Nilai Kehidupan – Menilai, Ikhlas, dan Rendah Hati

Kemarin ada yang nonton acara nilai kehidupan di salah satu teve swasta jam setengah tujuh malam tidak? Kalo iya, pasti kalian tau akan salah satu ceritanya yaitu tukang emas.

Satu kisah yang langsung membuat hati saya luluh dan terharu. Dikisahkan bahwa ada sebuah toko emas yang baru saja buka untuk memulai hari baru. Ada seorang Pemilik toko emasnya, dan ada dua orang karyawatinya yang sangat cantik. Nah, si Pemilik tokonya ini menjanjikan bahwa setiap penjualan yang dihasilkan akan diberikan bonus sebesar 20% dari nilai jualnya dan pastinya para pegawainya menanggapi dengan excited banget dan berharap bisa mendapatkan penjualan sebanyak – banyaknya.

Akhirnya, ada satu pelanggan datang ke toko tersebut, dan yang melayani adalah pegawai yang judes. Dia langsung menilai pelanggan tersebut tidak akan beli hanya nanya-nanya saja. Karena dari penampilang si pelanggan tersebut biasa saja. Tidak menggambarkan si ibu ini orang kaya yang ingin membeli emasnya. Dan dia sampe bilang seperti ini..

“Duh bu, yang ini mahal. Ibu gak akan bisa beli yang ini” 😐 dalem banget yah kata-katanya. *kalah sumur :p*

Dan ada satu pelanggan lagi datang ketoko, kali ini pelanggan tampilannya orang kaya dan pasti membeli emas yang mahal. Alih-alih ingin mendapatkan bonus yang besar, Pegawai yang judes tadi minta tukeran sama pegawai satunya yang lebih ramah dan sopan melayani pelanggan dan terlihat kalau pegawai yang ini lebih ikhlas menerima “keadaan” bahwa dia harus melayani seseorang yang kelihatannya tidak kaya.

Sementara pelanggan yang terlihat kaya ini memilih emas yang paling mahal, dia juga sebenarnya sedang mengelabuhi pelayan ini untuk mengambil emas yang di coba-coba dari tadi. Tanpa disadari si pelayan yang judes ini bahwa satu cincin berlian masih melingkar di jarinya, akhirnya dia keluar toko tanpa membeli emas satupun. Dan pelanggan yang sederhana tadi malah membeli barang seharga 12,5 juta. Sebuah angka yang lumayan, ya? Dan pelanggan yang sederhana tadi berlalu didepan pegawai yang judes itu sambil menyapanya. Karakter ibu ini sederhana dan rendah hati.

Dan dibagian ending dari kisah ini ada suatu pesan : “jangan menilai seseorang hanya dari pandangan pertama dan penampilannya, karena penampilan bisalah menipu dan pandangan pertama tidaklah sesuai dengan keperibadian seseorang..”

Saya langsung berfikir ulang, terkadang kita sebagai manusia memang tidak luput dari kisah diatas. Entah untuk menilai apapun itu. Bisa dengan seseorang ataupun benda. Dan saya pun pernah mengalami seperti cerita diatas. Pada saat mata saya ini melihat seseorang yang pertama kali saya temui kadang saya bisa langsung menyimpulkan bahwa yang saya lihat ini akan menjadi sesorang ini akan menjadi baik atau buruk. Tetapi semua penilaian saya terbalik. Yang saya nilai baik, malah ternyata buruk pun begitu sebaliknya. Manusia bisa saja salah dalam menilai. Jadi, jangan sampai lagi saya, ataupun anda menilai seseorang dari penampilan dan pandangan pertama. Karena kita gak akan bisa menebak mau seperti apa jadinya nanti. 🙂

Kedua, makna dari tayangan diatas adalah keikhlasan. Saya belajar dari keikhlasan pegawai satunya yang menerima keadaan yang orang bisa nilai itu tidak bagus. Kejadian seperti ini pun tidak luput dari kehidupan nyata kita. Disaat menerima situasi yang gak bagus bukannya menerima dengan ikhlas, malah terkadang ngedumel. Ya, kan? *hayo ngaku! :D* apalagi terkadang disaat kita melihat rekan kita sendiri yang menerima sesuatu yang lebih, langsung deh kita mengeluarkan peribahasa memang ya, rumput tetangga pasti lebih hijau. Padahal kalau kita syuri rumput kita jauh lebih asri dan hijau lho. Yah seperti cerita diatas tadi, ternyata orang yang kita sangka “lebih” itu tak urungnya dia kurang beruntung.

Ketiga, bersikaplah rendah hati dan santun kepada setiap orang yang sudah menyakiti hati kita seperti pelanggan yang sederhana tadi. Walaupun dia di hina dia masih tetap menghormati orang yang menghinanya. Kalau saya sih jujur, susah banget buat bersikap seperti ibu tersebut. Mungkin orang-orang seperti ibu tadi itu masih sedikit banget. Cuman saya akan belajar dari sikap tersebut. Setidaknya saya akan tetap santun dan hormat dengan orang yang meremehkan atau menghina saya. Itu akan menjadikan motivasi saya untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi.

Harusnya acara seperti ini yang harus diperbanyak ya, gak hanya kisah-kisahnya saja yang menyentuh. Setidaknya ada pelajaran yang tersirat didalamnya. Yuk! kita belajar menilai, ikhlas, dan rendah hati. Selamat malam semuanya! 😀

With Love,

nDue Findzha.
a.k.a Rini Astuti Handayani

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: