Penghuni Panti Jompo

Kupu-kupu beterbangan dengan liarnya memenuhi ruang hampa di udara. Warna-warninya menghiasi indahnya angkasa yang berwarna biru dan bercampur dengan putih dari awan-awan yang senantiasa menjalar tertiup angin.

Pemandangan yang sama setiap harinya. Walaupun ada masanya disaat langit mendung, dan seperti ingin menunjukkan murkanya kepada semesta yang diiringi dengan derasnya air yang bertaburan dari warna gelap yang awalnya berwarna putih. Hujan menyapu setiap kupu-kupu yang hendak berlalu-lalang di depan mataku.

Kupu-kupu dan aku adalah sahabat sejati. Meski aku tidak bisa berkomunikasi dengannya, tetapi tidak ada lelahnya dia menemani disepanjang fajar menyapa dan menjelang senja.

Tempat ini tidak lagi asing bagiku, di sinilah aku merasakan keluarga yang sesungguhnya. Siapa itu teman, siapa itu lawan. Siapa itu kerabat, siapa itu orang-orang yang suka bertipu muslihat.

Namaku Ina, biasa disapa dengan nenek Ina. Usiaku sudah memasuki usia senja, dan aku menjadi salah satu penghuni dari Panti Jompo yang ada didaerah Sukabumi. Sudah hampir 3 tahun aku disini, dititipkan oleh anak-anakku yang telah disibukkan oleh urusan kantor dan keluarga barunya.

Lorong-lorong dari tempat ini sudah seperti benda hidup yang setiap aku melewatinya mereka mengajakku berbicara. Dan satu hal yang membuatku selalu membenci mereka adalah pertanyaan klise yang ditanyakan berulang-ulang.

β€œAnak-anakmu ternyata tidak tulus menyayangimu, terbukti kamu terdampar ditempat ini bersama dengan temanmu lainnya. Yang senasip, yang menyedihkan, dan yang menjadikanmu tidak ada gunanya.”

Lorong yang dari luar saja sudah terlihat gelap tanpa sedikitpun cahaya yang menyejukkan. Lorong sepertinya mempunyai kekuatan jahat yang menghantuiku ketika melewatinya.

Beberapa perawat yang merawatku dan penghuni yang lainnya tidak jarang memandang iba kepada kami. Kebanyakan para perawat tersebut memang masih muda. Dan setiap bulan Ramadhan tiba, kemudian Idul Fitri tidak jarang dari mereka yang meneteskan air mata karena melihat kami ada ditempat ini tanpa keluarga kami. Keluarga yang sedari kecil kami rawat. Atau selain hari itu ketika Natal tiba, disaat semua bersuka cita menyambut hari lahirnya Yesus Kristus, tetapi kami masih ditempat ini bersama penghuni yang lainnya. Kami masih setia menunggu sampai anak-anak kami mau merawat kami kembali, dan berkumpul dengan cucu-cucu kami dirumah kami tentunya.

Kasih ibu sepanjang masa, dan kasih anak sepanjang gala. Benar ungkapan ini, dan betapa sakitnya ketika aku tahu bahwa anak-anakku telah sepakat mengungsikanku ketempat yang tidak menyenangkan ini.

Kalian tahu rasanya seperti apa? Seperti hanya menunggu malaikat pencabut nyawa turun kesebelahku dan mencabut nyawaku tanpa kehadiran orang-orang yang pernah aku sayangi dengan tulus dan segenap hati. Rasanya hampa disetiap detik yang mengalir. Tidak adalagi orang-orang yang bisa diajak bercengkerama seperti ketika aku mengajak anak-anakku main ketika mereka kecil dulu.

Disaat mereka nangis, aku menenangkannya. Disaat mereka ngompol, aku menggantikan popoknya. Disaat mereka lapar, aku menyuapinya. Disaat mereka mengantuk, aku menina-bobokan dan menceritakan dongeng-dongen yang selalu berakhir dengan bahagia. Disaat mereka merengek minta mainan, aku selalu mengusahakan untuk memenuhi segala mainan dan kebutuhan kalian.

Tetapi, disaat aku menangis ditempat ini kalian sibuk dengan segala yang menjanjikan kebahagiaan dunia walaupun tidak abadi. Disaat aku ngompol karena kaki-kakiku tidak kuat untuk melangkah dan lumpuh kalian melihatku dengan jijik. Disaat aku ingin tidur ditemani, kalian tidak pernah pulang awal untuk menemaniku. Kalian lebih memperdulikan waktu dengan teman-teman dan keluarga kalian. Disaat aku merengek minta untuk disuapi, kalian membentakku dan mempercayakan tangan perawat untuk menyuapi ke mulutku.

Dimana letak ketulusan kasih kalian kepadaku, ibu kalian?

Dimana letak hati nurani kalian, ketika menitipkan ibu kalian untuk menempati tempat ini?

Apa kalian tidak pernah sedetikpun ingat tentangku? Apa kalian tidak pernah sedikitpun merindukanku? Apa kalian tidak pernah sedikitpun menginginkanku kembali kerumah kita? Apa kalian benar-benar ingin aku meninggal di tempat ini tanpa kalian yang mendampingiku?

Seandainya saja, kupu-kupu ini bisa berbicara dan menyampaikan segala nestapaku kepada anak-anakku dirumahnya pastilah kupu-kupu ini akan menjadi penyampai pesan terbaik selain burung merpati. Seandainya saja mereka bisa merasakan betapa hampanya hari-hari senjaku ditempat ini. Ketika setiap rasa sayang yang tulus dibalaskan dengan kasih yang bersyarat.

Mereka akan mengerti rasanya, suatu saat nanti.

Mereka akan mengerti seperti apa rasanya menunggu mati, suatu saat nanti.

Dan mereka akan merasakan betapa hancurnya rasa hati setiap orangtua ketika anak-anaknya tidak ingin mengurus kami, penghuni panti jompo.

Terbanglah setinggi mungkin sahabatku, sampaikan salamku kepada malaikat pencabut nyawa, bahwa aku telah siap untuk menemuinya, bahkan detik ini juga.

*Ikut berpartisipasi dalam Event Writer Challenger yang digagas oleh Kang Teguh Puja. dalam thema hari ke-1 : Ketulusan, saya menggambarkan bahwa ketulusan itu tidak selamanya terbalaskan dengan baik. dan terbesit apakah anak-anak yang tega menitipkan orang tuanya dalam rumah jompo itu tidak mengingat betapa dahulu orang tuanya menyayanginya dengan tulus? entahlah. ini bukti nyata bahwa semakin banyak orang-orang sepuh yang menempati Panti Jompo*

Iklan

6 thoughts on “Penghuni Panti Jompo

    • jangan sedih. πŸ˜‰

      ini hanya untuk sebagai pengingat supaya kita tidak menelantarkan orang-orang yang dengan sayangnya mengurus kita.

      turut berduka cita untuk neneknya ya, Ilham.
      maaf baru disampaikan sekarang. πŸ˜‰

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: