Bapakku Seorang Waria

Dimana akan kucari,
Aku menangis seorang diri,
Hatiku selalu ingin bertemu,
Untukmu aku bernyanyi.

 

Alunan lagu yang mengalun indah untuk di dengarkan ketika aku merindukan hadirnya seorang bapak dalam kehidupanku.

Aku mendamba kehadirannya, dan aku merasa hampa tanpanya.

Bagiku sosok seorang bapak untuk hidupku adalah seperti sinaran pelangi yang elok dan menenteramkan hati ketika gemuruh badai dan hujan selesai menyapu semesta ini dengan rintik hujannya. Bagiku sosok seorang bapak untuk hidupku adalah seperti bunga teratai yang menggoda dan cantik walaupun dia tumbuh liar diantara air danau tanpa disiram, tanpa dipupuk, atau tanpa dirawat. Seperti itulah sosok bapak untuk hidupku.

Ibu selalu menceritakan tentang kegigihan bapak dalam mengajariku menghitung untuk pelajaran matematika, juga mengajariku mengaji dan sholat ketika usiaku batita kemudian menjelma balita dan menjadi seorang anak remaja. Bapak mengajariku dengan caranya yang berbeda, dia akan marah ketika aku tidak serius mendengarkannya. Pernah aku dibentak bahkan dipukulnya ketika aku masih belum bisa mengerti tentang pelajaran yang menurutku susah. Tetapi setelah aku menangis terisak bapak memelukku dan menawariku untuk membeli permen dan gulali di pasar rakyat. Ya, bapakku sosok yang menakutkan kalau sedang marah, tetapi akan ada kasih sayang yang dia tawarkan kemudian.

Menjelang usiaku 17 tahun bapak menghilang. Bapak hanya mengucapkan bahwa dia akan mencarikanku biaya untuk aku menuntut ilmu di perguruan tinggi yang sudah lama aku inginkan. Setiap aku belajar, bapak menungguku dengan sabarnya. Tidak ada tayangan televisi, tidak ada suara musik, tidak ada percakapan. Hanya diam membisu. Bapak sengaja membuat suasana belajarku tenang supaya semua mata pelajaran bisa aku cerna dengan baik. Dan dengan cara itu aku berhasil lulus dengan nilai tertinggi di sekolahanku. Aku juara umum. Dan aku akan menjadi seorang mahasiswa. Aku akan membuat bapak dan ibu bangga atas prestasiku hari ini dan kemudian hari.

Berpisah dari bapak, adalah sesuatu yang menyedihkan. Belum pernah aku rasakan kehilangan yang mendalam seperti ini. Kami biasa bermain laying-layang dikala sore, kami biasa bercerita, kami biasa pergi memancing, dan kami biasa memiliki waktu hanya berdua saja. Dia bukan hanya seorang bapak untukku tetapi sahabat terbaik untukku.

Selepas kepergian bapak, memang setiap bulannya keluarga kami mendapatkan kiriman uang dari hasil kerja bapak. Ibu tidak perlu bersusah payah lagi untuk bekerja sebagai buruh cuci dan gosok. Ibu sekarang hanya mengurus adik-adikku dan memasak untukku. Dan tugasku hanyalah belajar dan kemudian mencetak prestasi yang baik. Supaya bapak tidak merasa kecewa karena sudah mencarikanku biaya yang menurutku mahal.

Ketika aku bertanya kepada ibu apa pekerjaan bapak, ibu hanya tersenyum manis. Ibu tidak banyak berkomentar. Ibu hanya mengatakan bahwa apapun pekerjaan bapak, itu akan menghasilkan uang yang cukup untuk kebutuhan kita sehari-hari. Dan ketika aku bertanya kepada bapak kapan dia akan kembali ke rumah ini, ibu tersenyum kembali dan mengatakan bahwa bapak tidak akan pulang sebelum melihat aku lulus dan menyandang gelar sebagai Sarjana Ekonomi.

5 tahun berlalu. Dan kini aku dinyatakan lulus dengan Grade A. IPKku sempurna. Aku lulus dengan Cum Laude. Dan bapak belum juga kunjung pulang kerumah. Aku ingin bapak menyaksikanku ketika aku menggunakan toga nanti.

Namaku kini : Arya Chandra Saputra, S.E.

Kekecewaanku memuncak ketika tiba saatnya aku menggunakan toga, dan bapak masih belum ada disampingnya ibu untuk menjadi waliku. Bapak sepertinya benar-benar lupa dengan anaknya. Bapak seperti tidak melihat usahaku sampai dengan hari ini. Aku ingin menyusulnya tetapi ibu masih belum memberitahuku dimana keberadaan bapak. Yang ibu tahu hanyalah bapak bekerja di Ibu Kota. Dan tekadku sudah bulat untuk berkunjung ke kota itu.

Gemerlap Ibu Kota sungguh menggoda, ini kali pertamanya aku menginjakkan kaki ke Ibu Kota, dan sungguh membuatku pusing. Karena lalu-lalang dan semrawutnya berbeda jauh dengan tanah kelahiranku. Tidak ada alamat khusus dari ibu dan aku sepertinya nekat untuk menyusul Bapak. Jakarta sedimikian luas ternyata, tidak pernah terbayangkan olehku sebelumnya.

Malam itu, aku kesasar disuatu tempat yang menurutku tingkat kesuramannya parah. Dan banyak dari mereka wanita-wanita cantik yang menjajakan tubuhnya. Aku tahu seperti apa mereka menggunakan pakaian yang menurutku kekurangan bahan. Dress diatas lutut 15 cm, belahan dada yang turun kebawah. Menunjukkan betapa murahannya harga diri mereka.

“Mas, 500 ribu Short Time. Gimana?” aku kaget ketika mereka mulai bernegosiasi denganku. Dan tidak pernah sedikitpun aku menginginkan mereka.

“Maaf mbak, saya hanya ingin mencari keluarga saya yang sudah 5 tahun tidak pulang. Mungkin dengan yang lainnya aja ya mbak.”

“Full service mas, tenang memuaskan. 400 ribu deh..” kemudian banyak dari rombongan mereka menghampiriku dan memaksaku untuk menyetujuinya.

Sampai ada satu orang yang menolongku untuk kabur, dan Orang ini sepertinya tidak asing untukku. Hanya gaya berpakaiannya saja yang asing untukku.

“Kamu siapa?” tanyanya membuka percakapan denganku yang sama-sama terengah-engah dari kejaran wanita-wanita liar itu. Ah, aku salah mereka bukan wanita, mereka waria yang berdandan secara cantiknya.

“Saya, Arya. Mbak siapa?”

“Saya Fransisca.” Jawabnya singkat.

“Untuk apa kamu datang ketempat ini?”

“Saya ingin mencari bapak saya yang sudah 5 tahun tidak pulang, Mbak. Tetapi saya kesulitan untuk mencarinya karena saya tidak tahu tentang daerah sini. Apa mungkin mbaknya bisa membantu saya?” saya menyodorkan selembaran kertas dari Ibu berisikan nama Bapak dan alamat seadanya. Dan aku melihat ekspresi kaget dari Mbak yang ada didepanku ini.

“Prayitno. Ini nama bapakmu?”

“Iya, Mbak kenal sama bapak saya?”

“Apa kabar keluargamu, di desa?” mendadak dia menanyakan tentang keluargaku.

“Baik, Mbak. Memang mbaknya kenal sama keluarga saya? Atau mbak pernah ketemu dengan bapak saya?”

Wanita didepanku mendekapku erat. Aku risih. Tetapi apa daya pelukannya erat dan semakin erat. Dia menangis tersedu-sedan dalam pelukan kami. Dia meminta maaf, dia memohon untuk tidak marah kepada Bapakku. Tetapi, ada satu rasa yang tidak asing, rasa hangat sama seperti pelukan orang yang selama ini aku rindukan. Iya, pelukan Bapakku. Tetapi kenapa bentuknya berubah menjadi wanita?

“Aku bapakmu, nak.”

Hampir pingsan aku menerima pernyataan dari wanita cantik didepanku ini. Wanita yang memoles wajahnya dengan MakeUp dan menjelma seperti wanita sempurna dengan kemolekan tubuh yang ada.

“Ini Bapak, Mas.. apa kamu tidak kenal sama bapakmu. Bapak terpaksa menjadi seperti ini, Mas. Demi kuliahmu dan Ibumu didesa. Tolong jangan benci Bapak. Tolong jangan ceritakan ini kepada siapapun, Mas.”

“….” Aku masih tidak percaya akan apa yang diucapkannya.

“Mas, bapak terpaksa. Dengan cara ini bapak mendapatkan rupiah demi rupiah untuk keluarga kita. Untuk cita-citanya, Mas. Tolong jangan benci bapak. Apapun pekerjaan bapak semata-mata untuk yang terbaik buat keluarga kita. Bapak tidak berani pulang kerumah karena Ibumu pasti akan kaget melihat keadaan bapak seperti ini.”

“Bukan. Kamu bukan bapakku. Bapakku tidak seperti ini.” Aku menghardik pelukannya. Aku ingin berlari menjauhinya. Aku benci dengan keadaannya sekarang. Aku ingin pulang ke desa untuk menemui ibu sesegera mungkin.

Malam itu seakan meruntuhkan segala anganku untuk menemui sosok bapak yang selama ini aku rindukan. Aku impikan. Tidak pernah terpikirkan olehku bahwa bapakku seorang waria. Dan setiap malamnya menjajakkan tubuhnya untuk mengais rupiah demi rupiah dari pria-pria hidung belang yang sama gilanya dengan berimajinasi berhubungan dengan sejenisnya.

Apa yang lebih menyakitkan dalam hidupku ketika aku mengetahui bahwa bapakku berubah menjadi wanita. Tidak ada. Itu pukulan kerasa buat hidupku. Bapakku, menjelma wanita.

*Ikut berpartisipasi dalam Event Writer Challenger yang digagas oleh Kang Teguh Puja. dalam thema hari ke-2 : Ayah. Kali ini entah kenapa saya tidak menuliskan tentang sosok ayah saya. karena dari semalam saya sudah kebingungan untuk menuliskannya menjadi seperti apalagi. Ayah saya bukanlah orang terkenal, tetapi bagi saya sosok seorang ayah menjadi sangat berkesan tiada satu orangpun menggantikannya. dan saya menulis ini tidak untuk menjelek-jelekkan pihak siapapun. hanya cerita yang bergulir tanpa menyinggung siapapun. mohon maaf apabila tulisan kali ini tidak berkenan. setidaknya ini tulisan fiksi bukan sesuatu yang nyata. dan terinspirasi dari waria-waria yang mengais rezeki dengan caranya seperti ini*

Iklan

6 thoughts on “Bapakku Seorang Waria

  1. Setiap ayah akan selalu lakukan yang terbaik untuk anak-nya, meski memang mungkin cara yang dilakukan (mungkin saja) tidak semuanya benar. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: