Merdeka Untuk Kami

Indonesia tanah airku, merah darahku, putih tulangku, bersatu dalam semangatku.
Sekali merdeka tetaplah merdeka.

Banyak yang mengatakan bahwa Indonesia telah merdeka semenjak 67 tahun silam, dengan segala gebyar semangat yang pernah memuncak, dan berbagai perayaan yang dilakukan setiap tahunnya. Dan tentunya banyak dari perlombaan tersebut memberikan hadiah sebagai penyemangatnya untuk pesertanya.

Itu gambaran perayaan ulang tahun yang ada di daerah pemukimanku, tepat di seberang Ancol – Jakarta Utara. Merdeka juga bisa diartikan bebas. Sama halnya dengan orang-orang yang setiap harinya datang untuk menghamburkan uangnya dengan berteriak seharian penuh. Mereka tahu, bahwa untuk bisa masuk ke dalam wahana permainan tersebut membutuhkan uang yang cukup banyak, tetapi mereka menyebutnya merdeka. Merdeka dari beban, merdeka dari tugas, merdeka dari pekerjaan, dan merdeka dari tanggungan.

Tapi tidak bagiku atau bagi sekelompok warga yang tinggal di seberangnya. Di saat mereka asyik berteriak dan menikmati setiap wahana yang ada, dan menikmati sensasi dari dunia yang mereka bilang penuh dengan keajaiban dan keceriaan keluarga tersebut. Bagi kami merdeka untuk kami adalah ketika kami berhasil mengumpulkan botol-botol minuman mereka, dan akhirnya kami jual perkiloan. Dan dari hasil penjualan tersebut, kami bisa gunakan untuk membeli beras. Merdeka bagi kami adalah ketika kami bisa makan nasi dari beras. Bukan dari sisa nasi yang tidak habis kemudian dijadikan nasi haking. Begitulah merdeka menurut kami.

:: Cerita Udin. Salah satu warga kumuh yang tinggal didepan kawasan ancol. Usianya baru 15 tahun
 

Dirgahayu Indonesiaku yang ke 67 tahun. Saat-saat menyenangkan bagiku adalah ketika aku ditugaskan menjadi salah satu orang dalam pasukan paskibra. Tidak perlu paskibra setingkat kabupaten, tetapi setingkat kecamatan saja sudah menjadi hal yang membanggakan. Dan aku selalu menunggu saat-saat mengibarkan bendera dengan penuh haru biru ketika bersamaan dengan berkumandangnya lagu Indonesia Raya.

Tetapi saat-saat tersebut telah berlalu. Walau setiap tahunnya aku masih mengikuti upacara bendera untuk memperingati kemerdekaan bangsaku tercinta ini, tetapi aku berada dalam barisan orang-orang yang menyaksikan upacaranya, bukan sebagai petugas pengibar sang saka Merah Putih.

Aku dan guru-guru yang lain tidak habis pikir kenapa anak-anak siswa kami sekarang tidak bersemangat ketika upacara setahun sekali ini diadakan. Bahkan, sebagian dari mereka mengeluh kepanasan dan kelamaan berdiri nantinya di lapangan. Aku prihatin dengan keadaan seperti ini. Bukankah dahulu para pahlawan dan pejuang kita memperoleh kemerdekaan ini dengan nyawa sebagai taruhannya? Tugas kita sebagai penerus bangsa adalah mempertahankan kemerdekaan yang sudah ada. Dan tidak mengecewakan para pejuang kita.

Bendera siap untuk ditarik dan dikibarkan dengan sempurna diatas tiang bendera. Dan lagu Indonesia Raya siap dikumandangkan.

“Endonesia tanah airku, tanah tumpah darahku.. Disanalah aku berdiri jadi pandu ibuku.
Endonesia kebangsaanku bangsa dan tanah airku, marilah kita berseru Endonesia bersatu”

Sontak aku kaget, lemas di seluruh sendiku. Dan merasa kecewa serta sedih yang mendalam atas nyanyian yang berkumandang tadi. Mereka menyanyikannya tanpa rasa, tanpa penghayatan, ada yang tidak hafal, bahkan ejaannya salah. Ahh, apa yang dirasakan oleh WR Supratman ketika lagunya sudah berubah aksen dan nadanya? Entahlah, kami para guru-guru merasakan prihatin yang mendalam. Apakah makna dari kemerdekaan memang sudah hilang dan berganti makna?

:: Cerita Ratna, salah satu guru SMK yang juga mantan paskibra. Usianya kini 28 tahun
 

Indonesia sudah terlepas dari masa penjajahan selama 67 tahun lamanya. Bangsa penjajah yang kejam dan telah merenggut kebebasan kami—warga Indonesia, tidak ada lagi di tanah air tercinta ini. Mereka tidak berani lagi untuk menjajah negara ini. Karena kami akan berjuang sekuat tenaga untuk NKRI ini.

Tetapi kemerdekaan itu sepertinya tidak berlaku untuk warga kami—yang tinggal di Indonesia bagian timur, Irian Jaya. Kami belum merasakan apa itu merdeka yang hakiki. Yang kami tahu adalah, tanah kami kaya akan hasil bumi. Tanah kami jadi sasaran orang-orang bengis yang dengan nafsunya mengebor dan mengeruk hasil bumi kami. Dan juga tanah kami sering terjadi keributan, pertengkaran, bahkan baku tembak. Bukankah mereka sudah seharusnya berterima kasih kepada kami untuk hasil yang mereka keruk? Ya, kami belum sepenuhnya merdeka. Kami masih dijajah oleh orang-orang bengis yang dengan nafsu kehewanannya itu menguasai kami.

Bahkan, untuk merasakan hidup menggunakan listrik saja kami kesusahan. Jangankan listrik, bahan makanan dan bahan sandang kami juga sama susahnya. Apakah kemerdekaan sudah sampai ditanah kami? Ataukah kemerdekaan hanya milik mereka yang tinggal dikota dan orang-orang penjajah sialan itu?

:: Cerita Andy. Salah satu warga dari Irian jaya. Usianya kini 40 tahun
 

Indonesia genap 67 tahun merdeka. Dengan keanekaragaman suku dan budaya yang ada. Indonesia negara kesatuan yang berbentuk republik dan dipimpin oleh seorang presiden untuk menyatukan kita. Seperti dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Walaupun berbeda tetapi tetap satu jua.”

Tetapi, kami sendiri tidak tahu siapa Presiden kami saat ini. Jika ditanya, kami hanya sanggup menjawab Presiden kami adalah Soeharto. Tetapi, beliau telah tumbang semenjak tahun 1998, dan sudah ada 4 orang yang menggantikannya.

Daerah kami, memang daerah perbatasan. Kemerdekaan sepertinya tidak sampai disini. Listrik susah dijangkau, bahkan siaran teve pun tidak ada. Untuk mendapatkan kemewahan itu semua terpaksa kami jalan ke negara tetangga, Malaysia. Kerajaannya mampu mencakup sampai di ujung perbatasan seperti ini.

Jika kami dibiarkan seperti ini, kami takut untuk kalah dengan kehidupan yang ada. Dan kami berpindah kewarganegaraan.

Kami selalu bertanya. Apakah kemerdekaan itu hanya sebatas sebuah kata untuk kami?

:: Cerita Joseph. Salah satu warga yang tinggal diperbatasan antara RI dan Malaysia.-

 
* Karakter di atas sebenarnya saya buat tidak sesuai nama sebenarnya. Hanya karakter fiktif yang sedari semalam menari-nari di pikiran saya.

* Tulisan ini terinspirasi dari pengalaman beberapa kali melewati kawasan kumuh di seberang Ancol, dan dari ungkapan salah satu kerabat saya yang menjadi seorang guru, dan beberapa siaran di televisi.

* Tulisan ini saya buat dalam rangka #WriterChallenge yang diadakan oleh kang teguh puja. Dengan tema : Merdeka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: