Media, Bukan Sekedar Untuk Rating

Hari ini saya mendapatkan sebuah telephone dari salah satu perusahaan riset untuk penyampaian media yang ada di Indonesia ini. Well, tadinya saya tidak ingin menerima telephone tersebut karena biasanya marketing selalu menawarkan hal yang sama, tetapi dia menjanjikan tidak ingin menawarkan apapun murni survey jadinya saya meng-iyakan untuk menjawab beberapa pertanyaan untuk melengkapi hasil dari wawancara saya sore ini.

Ada beberapa hal yang ditanyakan, dan saya menjawabnya. Sejujurnya saya sangat menyukai media cetak dibandingkan elektronik. Karena media cetak harian yang saya baca berisikan berita-berita yang santer-santernya dibicarakan dibandingkan dengan elektronik yang ada hanya di jam-jam tertentu.

Salah satu media cetak kesukaan saya adalah harian kompas. Kalau elektronik biasanya saya membuka detik. Untuk acara kesukaan saya adalah Transcorp dan Metrotv. Dua saluran yang selalu menjadi tontonan selepas saya menjadi buruh seharian.

Sampailah wacana masukan untuk media cetak dan elektronik itu apa, lantas saya menjawab dengan jujur apa yang selama ini menjadi unek-unek saya ketika nonton tayangan-tayangan yang sesliweran ada. Dan,  gak heran sampai ada yang membuat saya misuh-misuh bahkan ada juga yang membuat saya ketawa terbahak-bahak.

Gini, saya memberi tahukan kepada pihak pewawancaranya tentang iklan yang tidak saya suka.

“Mbaknya tahu tentang iklan dari Real Good Nyot? Saya sebenarnya sungguh sebah dengan iklan tersebut. Kenapa iklan tersebut lolos dan tayang di jam-jam sibuk yaitu dimana banyak penonton menyaksikannya kebanyakan sore saya temui. Itu iklan menggunakan beberapa model anak kecil, dan sungguh itu tidak layak tayang menurut saya.”

“Iya bu, apa yang membuat ibu berfikir seperti itu?”

“Itu bahasanya. Nyot, nyot, dikenyot, nyot, nyot, nyot, dikenyot, nyot. Coba mbaknya bayangkan kalau anaknya mbak atau anak-anak lainnya menirukan bahasa seperti itu dan menjadikan kebiasaan itu menurut saya bahasa yang saru, lho. Tapi koreksi saya kalau menurut mbaknya saya tidak benar ini hanya masukan saja lho ya. Dan satu hal lagi, ekspresi dari anak-anak tersebut yang membuat saya tidak suka. Mereka tidak seharusnya menjadi seperti itu.”

”Masukannya diterima, bu. Adalagi?”

“Saya juga gak suka dengan iklan salah satu Provider yang menggunakan bahasa tidak baku sehingga menjadi trend. Dan iklan itu lagi santer-santernya bahkan ada beberapa versi dari iklan tersebut. Ah ya, apa jadinya kalau besok para pemuda kita ikutan bahasa trend itu? Mbok ya kalau bisa itu meluruskan bahasa yang benar jangan malah meluruskan bahasa menjadi tidak baku..”

“Iya bu, itu sedang populer saat ini. Dan kami akan tampung untuk masukan-masukan dari ibu. Apakah adalagi yang ingin disampaikan?”

“Untuk acara sinetron itu terlalu banyak drama, over acting, dan karakternya kebanyakan jahat, iri dengki, dan tidak masuk akal. Kenapa tidak digunakan untuk mengisi jam-jam padat tersebut dengan acara komedi yang menghibur atau sekedar penyampaian media untuk pendidikan? Karena saya juga tahu biasanya untuk Rating tinggi apapun bisa di setting, bener kan mbak?”

“Iya ibu, kami terima kembali masukannya. Kalau dari segi media cetak apakah ada masukan untuk kami?”

“Tidak ada saya tidak ada yang masukan atau koreksi untuk media ini, karena selama ini baik-baik saja. Soalnya saya juga tidak banyak membaca media cetak untuk kasus gossip-gossip yang beredar.”

“Baiklah bu, masukannya kami terima semua untuk menjadikan penyampaian media lebih baik lagi dibandingkan sebelumnya. Terima kasih untuk waktunya yah ibu, selamat sore.”

“Terima kasih kembali.”

Saya benar-benar tidak suka dengan iklan-iklan yang ada saat ini. Bisa dihitung iklan yang bagus dan mendidik. Salah satunya A-Mild, yang ada penghijauan di tengah-tengah kota. Iklan Djarum 76, Coca Cola edisi Cinta Perdamaian, 3 edisi kebebasan, Iklan-Iklan yang ada selama bulan Ramadhan, dan iklan yang dikeluarkan oleh Pemerintah bisa dalam bentuk hemat air, listrik, sensus pajak, pilkada.

Dan, untuk yang memiliki anak-anak kecil jangan luput dari perhatian saat menonton acara-acara yang lagi tayang sesliweran saat ini. Ada baiknya berpindah ke tayangan menggunakan TV kabel, atau DVD yang sesuai dengan usianya.

Jangan sampai anak-anak itu ikutan bahasa yang sedang trend atau ikut-ikutan ngomong.. “Mama, kenyot ma, enak ma..” dan kemudian saya mau pingsan. 😐

Ada baiknya sebelum iklan tayang, mbok ya itu KPI di seleksi dulu dengan seksama apakah iklan tersebut layak tayang atau tidak.

Bagaimana menurut kalian?

Iklan

6 thoughts on “Media, Bukan Sekedar Untuk Rating

  1. Mantep nih ibu Rini.. He3, aku sarujuk karo awakmu untuk perkara yang ‘saru’ tadi.

    Bener banget sinetron Indonesi terlalu mendramatisir dan malah jadi sinetron ‘kacang’. 😀

    Kalau aku jadi penelponmu aku mau kasih hadiah..pastinya bukan pisuh2 tapi Rilgudkenyot.. Eeeh *keplak* 😆

    • HAHAHAHHA. aduh ketawa. =))

      hus, gak ada ibu-ibu rini disini mah. =))

      iya itu mbak nitha, aku syebel sama iklan itu, dan semalam sempat debat sama si abang hafiz. katanya dosennya dia yang ngajarin komunikasi untuk visual itu iklan tersebut masih dalam batas wajar. justru itu bagusnya jadi dikenang iklan tersebut. walaupun iklan tersebut menimbulkan kontroversi di kalangan layak. hhhhhh, rada syebel kalau debat sama dia.

      dan sempet kepikiran kalo punya anak begini :

      “dek, kamu belajar yah biar pinter jangan nonton sinetron terus..”

      “ciyus bun? mi apah??”

      aku mau pengsan mendadak aja kalo begitu. =))

  2. Aku ya sebel sama iklan-iklan yang manfaatin kemolekan cewek. Kaya iklan oli motor matic tuh. Masak mau ganti oli aja ngomongnya dibuat-buat seperti mesum gitu.. Sebel….

  3. saya paling suka iklan obat batuk ada orang sipit keluar dari gentong air “pemirsa..batuk pemirsa, minum obeha kombi haa”
    begitu sederhana, dan nggak rusuh

    • HAHAHAHA.

      aku suka iklan djarum 76 edisi “nyogok”.

      “saya mau semua pungli dihapuskan, iso ra jin?”

      “gampang, wani piro?” dan mukanya itu lho gak nguatin banget. =)) itu iklan kerennn. sama yang edisi dia takut sama jin wanitanya. that’s so cool! 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: